Ketika Netralitas Tak Lagi Cukup untuk Menjaga Kemanusiaan

Ketika Netralitas Tak Lagi Cukup untuk Menjaga Kemanusiaan

uzmacare.or.id — Ada waktu ketika netralitas terasa sebagai sikap paling aman. Ia tampak rasional, tertib, dan menenangkan. Dalam banyak keadaan, netralitas memang dibutuhkan agar jarak pandang tetap terjaga. Namun ada pula saat-saat ketika netralitas berhenti menjadi kebijaksanaan. Ia berubah menjadi jarak yang terlalu jauh dari penderitaan manusia.

Ketika Netralitas Tak Lagi Cukup untuk Menjaga Kemanusiaan

Di sanalah kemanusiaan diuji

Dunia hari ini berbicara dengan bahasa yang tenang dan terukur. Stabilitas, kepentingan strategis, keamanan, keseimbangan—semua terdengar masuk akal. Bahasa itu digunakan untuk menjelaskan konflik, krisis, dan tragedi kemanusiaan. Namun di balik kalimat-kalimat yang rapi, ada manusia yang kehilangan rumah, keluarga, dan rasa aman. Ada kehidupan yang runtuh, tanpa selalu terdengar suaranya.

Kemanusiaan tidak lahir dari analisis yang canggih. Ia tumbuh dari empati paling dasar: kemampuan untuk tidak terbiasa dengan penderitaan orang lain. Ketika rasa itu masih hidup, kita akan terusik. Ketika rasa itu melemah, penderitaan mulai terasa biasa.

Dalam kondisi tertentu, berdiri di tengah justru berarti membiarkan. Netralitas menjadi ruang yang nyaman bagi mereka yang tidak ingin terusik, tidak ingin memilih, tidak ingin menanggung beban moral. Padahal, tidak semua situasi memberi kita kemewahan untuk sekadar mengamati. Ada keadaan di mana jarak justru memperpanjang luka.

Atas nama perdamaian, kekerasan kerap dijelaskan sebagai konsekuensi. Penderitaan massal diterima sebagai bagian dari dinamika konflik. Bahasa damai pun kehilangan ketenangannya, karena tidak lagi berpihak pada kehidupan. Perdamaian yang menutup mata pada ketidakadilan adalah ketenangan yang rapuh.

Sejarah manusia berulang kali menunjukkan hal yang sama

Banyak tragedi tidak hanya disebabkan oleh mereka yang melakukan kekerasan, tetapi juga oleh mereka yang memilih diam. Diam karena merasa tidak terlibat, karena merasa netral. Diam karena mengira waktu akan menyelesaikan segalanya. Padahal, waktu tidak selalu menyembuhkan; sering kali ia hanya memperpanjang derita.

Hari ini, jarak itu hampir hilang. Kita melihat penderitaan melalui layar, membaca kesaksian, menyaksikan kehancuran nyaris tanpa jeda. Namun kedekatan informasi tidak selalu melahirkan kedekatan empati. Justru di sinilah tantangannya: menjaga agar nurani tidak tumpul oleh kebiasaan melihat luka. Menyuarakan kemanusiaan tidak berarti memelihara kebencian. Ia bukan teriakan kemarahan. Ia adalah pengakuan sederhana bahwa ada batas yang tidak boleh dilewati. Bahwa martabat manusia tidak boleh ditawar, apa pun alasan dan bahasanya.

Kepentingan yang dibungkus ketenangan

Ketika rasa kemanusiaan memudar, yang tersisa bukan kedamaian, melainkan kepentingan yang dibungkus ketenangan. Kekerasan tidak lagi terasa sebagai kekerasan, melainkan sebagai sesuatu yang bisa dijelaskan. Dan justru di situlah bahayanya: ketika kejahatan berhenti mengguncang nurani.

Kemanusiaan memang tidak menjanjikan akhir yang cepat. Ia tidak menawarkan solusi instan. Namun ia menjaga arah. Ia mengingatkan bahwa di tengah dunia yang sibuk menimbang, masih ada hal yang tidak bisa ditimbang: kehidupan manusia.

Pada akhirnya, pertanyaannya tidak rumit. Ketika penderitaan terjadi di depan mata, apakah kita memilih kenyamanan netralitas, atau kesediaan untuk tetap merasa? Sebab peradaban tidak selalu runtuh oleh kebisingan kekerasan, melainkan oleh sunyinya nurani.
Catatan Kemanusiaan By : Edhie Kusmana

Kunjungi berita ter-update di Instagram kami
Baca juga : https://uzmacare.or.id/perdamaian-tanpa-keadilan-catatan-kemanusiaan-tentang-board-of-peace/