Epstein dan Kejahatan Global: Di Balik Tabir Modernitas

Epstein dan Kejahatan Global: Di Balik Tabir Modernitas

uzmacare.or.id — Kasus Jeffrey Epstein tidak berhenti sebagai skandal kriminal seorang individu. Ia menjelma cermin buram peradaban modern—tentang bagaimana kejahatan dapat tumbuh subur di balik kemewahan, jejaring elite, dan sistem hukum yang tampak beradab. Dunia yang mengklaim diri maju justru mempertontonkan paradoks: semakin canggih sistem dibangun, semakin halus kejahatan disamarkan.

Modernitas menjanjikan transparansi, akuntabilitas, dan supremasi hukum. Namun dalam praktiknya, janji itu kerap berakhir sebagai prosedur yang dingin. Dokumen dibuka sebagian, fakta disaring, dan kebenaran dikelola agar tidak mengguncang stabilitas. Publik pun bertanya dengan getir: apakah hukum sungguh-sungguh bekerja untuk keadilan, atau sekadar menjaga citra dan ketertiban?

Kasus Epstein memperlihatkan pola yang berulang. Persoalannya bukan semata siapa saja yang terlibat—itu wilayah pembuktian hukum—melainkan mengapa sebuah kejahatan dapat berlangsung lama di bawah pengawasan sistem yang mengaku modern dan beradab. Di titik inilah modernitas menjelma tabir: rapi di permukaan, rapuh di dalam.

Dalam etika Islam, kekuasaan adalah amanah, bukan hak istimewa. Semakin tinggi kedudukan, semakin berat pertanggungjawaban. Namun logika ini kerap terbalik dalam praktik global. Kekuasaan dirayakan, dilindungi, dan dipertahankan, bahkan ketika menyimpang. Ketika tauhid melemah, rasa takut kepada Allah digantikan oleh ketakutan kehilangan pengaruh. Batas benar dan salah mencair; yang tersisa hanyalah kalkulasi risiko.

Merasa aman dari perbuatan dosa

Kejahatan pun tidak lagi dinilai dari dosanya, melainkan dari kemungkinan tertangkap. Selama risiko dapat dikelola—dengan uang, jaringan, dan narasi—semuanya dianggap aman. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan tentang datangnya masa ketika rasa malu lenyap. Rasa malu adalah cabang iman. Ketika ia hilang, dosa tidak lagi dirasakan sebagai beban, melainkan rahasia yang cukup disembunyikan.

Hukum modern berdiri di atas asas praduga tak bersalah, sebuah prinsip penting agar keadilan tidak berubah menjadi penghakiman massa. Namun masalah muncul ketika hukum kehilangan ruhnya. Prosedur menjadi tujuan, bukan alat. Transparansi berubah menjadi slogan. Akibatnya, publik menyaksikan ketimpangan yang sulit dibantah: tegas ke bawah, berhati-hati berlebihan ke atas. Bukan kehati-hatian yang dipersoalkan, melainkan selektivitas yang terus berulang.

Di tengah semua itu, korban kerap menjadi pihak paling sunyi

Mereka disebut dalam laporan, tetapi jarang dipulihkan martabatnya. Padahal ukuran keadilan sejati bukan hanya vonis, melainkan pemulihan kemanusiaan. Islam menegaskan bahwa menyakiti satu jiwa tanpa hak adalah dosa besar. Keadilan tidak diukur dari kerapian administrasi, tetapi dari keberpihakan pada yang lemah.

Kasus Epstein seharusnya dibaca sebagai tanda zaman. Akhir zaman bukan hanya ditandai oleh bencana atau konflik, tetapi oleh runtuhnya batas moral. Yang salah dinormalisasi, yang benar dipinggirkan, dan yang kuat selalu menemukan jalan keluar. Nabi ﷺ telah memperingatkan tentang masa ketika amanah dikhianati dan urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya. Peringatan itu terasa kian relevan hari ini.

Kasus Epstein seharusnya dibaca sebagai tanda zaman

Di tengah kejahatan global yang dibungkus modernitas, manusia membutuhkan benteng yang tak bisa dibeli, ditekan, atau dinegosiasikan: iman dan tauhid. Tauhid menegaskan bahwa tidak ada kekuasaan absolut selain Allah. Iman menanamkan keyakinan bahwa setiap perbuatan akan dihisab, betapapun rapi ia disembunyikan.

Di akhir zaman, ketika kezaliman dihias dan kebenaran ditunda, Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap rahasia akan disingkap (QS. At-Ṭāriq: 9), dan Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa amanah akan diabaikan hingga kehancuran tiba—maka iman dan takwa adalah benteng terakhir keselamatan manusia.
Oleh: Edhie Kusmana (Pegiat Sosial dan Kemanusiaan)

📚"EPSTEIN FILES"
Link Youtube 👇👇

Kunjungi berita ter-update di Instagram kami
Baca juga : https://uzmacare.or.id/tunaikan-zakat-mal-untuk-korban-bencana-alam/