uzmacare.or.id - Memasuki waktu berbuka di hari pertama bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Uzma Care kembali menghadirkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina. Pada 18 Februari 2026, distribusi Paket Buka Puasa Ramadhan dilaksanakan di Jalur Gaza Utara sebagai bentuk kepedulian untuk menyambut berbuka puasa pertama di tengah keterbatasan yang mereka alami.
Paket buka puasa yang dibagikan berupa makanan hangat berisi nasi briyani dan daging ayam. Hidangan tersebut disiapkan agar dapat langsung dinikmati oleh warga setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Dalam suasana sederhana, warga berkumpul dan makan bersama, menyambut waktu berbuka dengan penuh kebersamaan dan rasa syukur.
Program ini menjadi bagian dari rangkaian ikhtiar Ramadhan Uzma Care untuk memastikan warga Gaza tetap mendapatkan asupan yang layak di waktu-waktu penting ibadah. Berbuka puasa bukan hanya tentang makanan, tetapi juga tentang kebersamaan, ketenangan, dan penguatan hati. Melalui hidangan hangat ini, Uzma Care berharap warga dapat merasakan kehadiran kepedulian di awal Ramadhan.
Menghadirkan Kehangatan di Waktu Berbuka
Seluruh paket buka puasa yang disalurkan berasal dari amanah para donatur yang mempercayakan kebaikannya melalui Uzma Care. Proses distribusi dilakukan secara tertib agar setiap penerima mendapatkan bagian secara adil. Lebih dari sekadar makanan, kegiatan ini menjadi simbol solidaritas dan persaudaraan umat di bulan penuh keberkahan.
Kami mengajak masyarakat untuk terus membersamai program Ramadhan ini melalui dukungan dan doa. Semoga setiap hidangan yang dibagikan menjadi amal jariyah, mengalirkan pahala, serta menguatkan saudara-saudara kita di Gaza dalam menjalani ibadah puasa.
uzmacare.or.id - Memasuki hari pertama bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Uzma Care kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina. Pada 18 Februari 2026, bertepatan dengan Ramadhan pertama 1447 H, distribusi Paket Sahur 1 dilaksanakan di Jalur Gaza Utara untuk membantu warga menunaikan ibadah puasa di tengah keterbatasan yang mereka hadapi.
Setiap paket sahur berisi bahan makanan sederhana namun dibutuhkan, yaitu telur, keju, selai, kurma, dan roti. Paket-paket ini disiapkan agar dapat langsung dimanfaatkan oleh keluarga untuk santapan sahur, sehingga mereka tetap memiliki asupan makanan sebelum menjalani puasa seharian penuh. Di tengah kondisi yang sulit, bantuan ini menjadi penguat awal Ramadhan bagi banyak keluarga.
Program Paket Sahur ini merupakan bagian dari komitmen Uzma Care dalam menghadirkan bantuan yang relevan dengan momen ibadah. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang keteguhan hati dan harapan. Melalui distribusi sahur di hari pertama Ramadhan, Uzma Care berharap warga Gaza Utara dapat menjalani ibadah puasa dengan lebih tenang dan terjaga.
Menyambut Ramadhan dengan Kepedulian
Seluruh Paket Sahur 1 yang dibagikan berasal dari amanah para donatur yang mempercayakan kebaikannya melalui Uzma Care. Proses penyaluran dilakukan secara tertib dan setara agar setiap penerima mendapatkan hak yang sama. Lebih dari sekadar bantuan pangan, kegiatan ini menjadi bentuk solidaritas dan kebersamaan umat di bulan yang penuh berkah.
Kami mengajak masyarakat untuk terus membersamai ikhtiar Ramadhan ini melalui dukungan dan doa. Semoga setiap bantuan yang disalurkan menjadi amal jariyah, mengalirkan pahala, serta menguatkan saudara-saudara kita di Gaza dalam menjalani bulan suci.
Ya Allah, terimalah amal kami di awal Ramadhan ini, cukupkan rezeki saudara-saudara kami di Gaza, kuatkan mereka dalam ibadah, dan limpahkan keselamatan serta keberkahan bagi mereka semua. Aamiin.
uzmacare.or.id — Kampung Karamah, Gaza Utara. Upaya menghadirkan pangan bagi warga Gaza terus dilakukan secara berkelanjutan. Pada 7 Februari 2026, Uzma Care bersama tim relawan setempat, para ibu dan bapak, bergotong royong menyiapkan roti untuk dibagikan kepada masyarakat. Proses produksi dilakukan secara langsung di lokasi dengan menggunakan oven batu, menciptakan roti yang masih hangat sebelum akhirnya dikemas ke dalam kantong plastik untuk didistribusikan secara merata kepada para warga.
Kegiatan ini bukan sekadar memasak dan membagikan makanan. Lebih dari itu, kerja bersama tersebut mencerminkan semangat solidaritas serta kebersamaan di tengah situasi yang penuh keterbatasan. Anak-anak yang menerima roti tampak tersenyum gembira, menjadi pengingat bahwa bantuan sederhana pun mampu menghadirkan secercah kebahagiaan dan penguatan moral bagi mereka yang sedang berjuang menjalani hari.
Program ini merupakan bagian dari komitmen Uzma Care dalam merespons kebutuhan dasar warga Palestina melalui bantuan pangan yang tepat guna. Setelah berbagai bentuk distribusi dilakukan sebelumnya, kegiatan produksi roti ini menjadi salah satu cara untuk memastikan masyarakat memperoleh makanan siap santap yang dapat dinikmati bersama keluarga.
Dari Dapur Kemanusiaan Menuju Senyum Anak-anak
Seluruh kegiatan ini terlaksana berkat amanah para donatur yang mempercayakan kepeduliannya melalui Uzma Care. Proses pembagian dilakukan dengan tertib dan setara agar setiap keluarga mendapatkan bagian yang adil. Tidak hanya mengenyangkan, roti-roti tersebut juga membawa pesan bahwa dunia masih memperhatikan kondisi mereka.
Kami mengajak masyarakat untuk terus membersamai langkah kemanusiaan ini melalui kontribusi dan doa. Mari lanjutkan ikhtiar bersama Uzma Care agar semakin banyak warga Gaza yang merasakan manfaat dari bantuan yang disalurkan.
Semoga setiap kebaikan yang dititipkan menjadi amal jariyah, menghadirkan keberkahan, serta menguatkan saudara-saudara kita di Palestina. Ya Allah, lindungilah mereka, cukupkan kebutuhan mereka, dan tumbuhkan kembali harapan di hati anak-anak Gaza. Aamiin.
uzmacare.or.id — Setiap kali kata BOP diucapkan, harapan itu kembali menyala. Di masjid-masjid, ruang diskusi NGO, mimbar ulama, forum akademisi, hingga percakapan sederhana di warung kopi—nama itu disebut dengan nada yang sama: berharap. Seolah BOP adalah pintu terakhir yang akan terbuka bagi Gaza, yang selama berbulan-bulan hidup dalam kepungan, kelaparan, dan ketidakpastian.
Indonesia, dengan seluruh energi moral dan spiritualnya, telah menaruh harapan besar. Ulama berdoa, aktivis bergerak, pakar menulis analisis, dan masyarakat menggalang donasi. Semua seakan sepakat: bila BOP berjalan, maka bantuan akan mengalir, penderitaan akan berkurang, dan secercah hidup akan kembali ke reruntuhan Gaza.
Namun di titik inilah pertanyaan besar itu muncul—antara harapan dan khayalan.
Sebab harapan, betapapun sucinya, akan berubah menjadi ilusi bila tidak berpijak pada kenyataan. Gaza hari ini tidak kekurangan janji, tetapi kekurangan roti. Tidak kekurangan pernyataan solidaritas, tetapi kekurangan air bersih. Tidak kekurangan doa, tetapi kekurangan jaminan bahwa bantuan benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan.
BOP, sebagaimana digambarkan dalam berbagai forum, tampak seperti solusi teknokratis yang rapi: mekanisme bantuan yang aman, terkoordinasi, dan berkelanjutan. Di atas kertas, ia terlihat menjanjikan. Tetapi Gaza bukan kertas. Gaza adalah tanah yang dibombardir, perbatasan yang dikunci, dan manusia yang hidup di bawah kuasa senjata. Di sana, tidak ada mekanisme yang netral. Tidak ada distribusi yang benar-benar bebas dari kendali politik dan militer.
Tidak ada mekanisme yang netral
Di sinilah kegelisahan itu tumbuh. Apakah BOP sungguh instrumen kemanusiaan, atau sekadar bingkai baru untuk menunda keadilan? Apakah ia jembatan bantuan, atau justru pagar baru yang mengatur siapa boleh hidup lebih dulu dan siapa harus menunggu lebih lama?
Kegigihan Indonesia patut dihormati. Tidak banyak negara yang berani berdiri konsisten di sisi Palestina, bukan hanya secara diplomatik, tetapi juga secara moral. Ulama mengingatkan bahwa Gaza bukan sekadar isu politik, melainkan amanah akidah. NGO bekerja dalam sunyi, menembus birokrasi dan risiko. Para pakar mengajukan skema, data, dan argumentasi agar dunia tidak lagi berpaling.
Namun justru karena kegigihan itu, publik berhak bertanya dengan jujur: ke mana arah harapan ini dibawa?
Sejarah Gaza mengajarkan satu hal pahit: banyak koridor kemanusiaan yang lahir bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menenangkan opini global. Bantuan diizinkan masuk secukupnya—bukan untuk mengakhiri penderitaan, tetapi untuk memastikan penderitaan itu tidak terlalu terlihat. Dalam situasi seperti ini, harapan mudah disulap menjadi alat penundaan.
Anak-anak Gaza tidak hidup dalam konsep. Mereka hidup dalam hitungan jam tanpa makanan. Para ibu tidak menunggu desain kebijakan; mereka menunggu apakah hari ini ada tepung. Para ayah tidak membaca siaran pers; mereka bertanya apakah besok masih ada tempat berlindung.
Maka ketika BOP terus dibicarakan, sementara realitas di lapangan nyaris tak bergerak, kegelisahan itu menjadi sah. Jangan-jangan yang kita tunggu bukan pintu yang akan dibuka, melainkan tirai yang menutup kegagalan kolektif dunia.
Harapan sejati selalu menuntut keberanian
Bukan hanya keberanian untuk berharap, tetapi keberanian untuk berkata cukup ketika harapan diperalat. Jika BOP tidak disertai tekanan politik nyata, jaminan akses tanpa syarat, dan keberpihakan tegas pada korban—maka ia berisiko menjadi khayalan yang dibungkus bahasa kemanusiaan.
Saudaraku di Gaza tidak membutuhkan simbol baru. Mereka membutuhkan perubahan nyata. Dan bagi kita di Indonesia, solidaritas tidak boleh berhenti pada keyakinan bahwa “sesuatu sedang diusahakan.” Solidaritas menuntut kewaspadaan moral: memastikan bahwa setiap janji benar-benar bergerak menuju kehidupan, bukan sekadar menunda kematian.
Di titik ini, pertanyaan itu harus dijaga tetap hidup: Apakah kita sedang merawat harapan, atau sedang diajak menikmati khayalan?
Sebab bagi Gaza, perbedaan keduanya bukan soal wacana—melainkan soal hidup dan mati.
Catatan Kemanusiaan : Edhie Kusmana UZMA CARE FOR PALESTINE YKPA
uzmacare.or.id — Kasus Jeffrey Epstein tidak berhenti sebagai skandal kriminal seorang individu. Ia menjelma cermin buram peradaban modern—tentang bagaimana kejahatan dapat tumbuh subur di balik kemewahan, jejaring elite, dan sistem hukum yang tampak beradab. Dunia yang mengklaim diri maju justru mempertontonkan paradoks: semakin canggih sistem dibangun, semakin halus kejahatan disamarkan.
Modernitas menjanjikan transparansi, akuntabilitas, dan supremasi hukum. Namun dalam praktiknya, janji itu kerap berakhir sebagai prosedur yang dingin. Dokumen dibuka sebagian, fakta disaring, dan kebenaran dikelola agar tidak mengguncang stabilitas. Publik pun bertanya dengan getir: apakah hukum sungguh-sungguh bekerja untuk keadilan, atau sekadar menjaga citra dan ketertiban?
Kasus Epstein memperlihatkan pola yang berulang. Persoalannya bukan semata siapa saja yang terlibat—itu wilayah pembuktian hukum—melainkan mengapa sebuah kejahatan dapat berlangsung lama di bawah pengawasan sistem yang mengaku modern dan beradab. Di titik inilah modernitas menjelma tabir: rapi di permukaan, rapuh di dalam.
Dalam etika Islam, kekuasaan adalah amanah, bukan hak istimewa. Semakin tinggi kedudukan, semakin berat pertanggungjawaban. Namun logika ini kerap terbalik dalam praktik global. Kekuasaan dirayakan, dilindungi, dan dipertahankan, bahkan ketika menyimpang. Ketika tauhid melemah, rasa takut kepada Allah digantikan oleh ketakutan kehilangan pengaruh. Batas benar dan salah mencair; yang tersisa hanyalah kalkulasi risiko.
Merasa aman dari perbuatan dosa
Kejahatan pun tidak lagi dinilai dari dosanya, melainkan dari kemungkinan tertangkap. Selama risiko dapat dikelola—dengan uang, jaringan, dan narasi—semuanya dianggap aman. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan tentang datangnya masa ketika rasa malu lenyap. Rasa malu adalah cabang iman. Ketika ia hilang, dosa tidak lagi dirasakan sebagai beban, melainkan rahasia yang cukup disembunyikan.
Hukum modern berdiri di atas asas praduga tak bersalah, sebuah prinsip penting agar keadilan tidak berubah menjadi penghakiman massa. Namun masalah muncul ketika hukum kehilangan ruhnya. Prosedur menjadi tujuan, bukan alat. Transparansi berubah menjadi slogan. Akibatnya, publik menyaksikan ketimpangan yang sulit dibantah: tegas ke bawah, berhati-hati berlebihan ke atas. Bukan kehati-hatian yang dipersoalkan, melainkan selektivitas yang terus berulang.
Di tengah semua itu, korban kerap menjadi pihak paling sunyi
Mereka disebut dalam laporan, tetapi jarang dipulihkan martabatnya. Padahal ukuran keadilan sejati bukan hanya vonis, melainkan pemulihan kemanusiaan. Islam menegaskan bahwa menyakiti satu jiwa tanpa hak adalah dosa besar. Keadilan tidak diukur dari kerapian administrasi, tetapi dari keberpihakan pada yang lemah.
Kasus Epstein seharusnya dibaca sebagai tanda zaman. Akhir zaman bukan hanya ditandai oleh bencana atau konflik, tetapi oleh runtuhnya batas moral. Yang salah dinormalisasi, yang benar dipinggirkan, dan yang kuat selalu menemukan jalan keluar. Nabi ﷺ telah memperingatkan tentang masa ketika amanah dikhianati dan urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya. Peringatan itu terasa kian relevan hari ini.
Kasus Epstein seharusnya dibaca sebagai tanda zaman
Di tengah kejahatan global yang dibungkus modernitas, manusia membutuhkan benteng yang tak bisa dibeli, ditekan, atau dinegosiasikan: iman dan tauhid. Tauhid menegaskan bahwa tidak ada kekuasaan absolut selain Allah. Iman menanamkan keyakinan bahwa setiap perbuatan akan dihisab, betapapun rapi ia disembunyikan.
Di akhir zaman, ketika kezaliman dihias dan kebenaran ditunda, Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap rahasia akan disingkap (QS. At-Ṭāriq: 9), dan Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa amanah akan diabaikan hingga kehancuran tiba—maka iman dan takwa adalah benteng terakhir keselamatan manusia. Oleh: Edhie Kusmana (Pegiat Sosial dan Kemanusiaan)
uzmacare.or.id — Dari hati yang peduli, lahir harapan baru. Uzma Care menghadirkan program Uluran Hati untuk Palestina sebagai wujud kepedulian terhadap warga Gaza yang tengah menghadapi keterbatasan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui berbagai bentuk bantuan kemanusiaan, kami berupaya meringankan duka serta menguatkan saudara-saudara kita agar tetap bertahan di tengah situasi yang sulit.
Program ini merupakan ajakan terbuka bagi masyarakat untuk mengambil bagian dalam ikhtiar kemanusiaan yang berkelanjutan. Setiap donasi yang dititipkan akan dikelola secara amanah dan disalurkan sesuai kebutuhan di lapangan. Sebagai bentuk tanggung jawab kepada para donatur dan penerima manfaat.
Mari Berbagi untuk Menguatkan Palestina
Uzma Care membuka kesempatan bagi siapa pun yang ingin turut serta dalam gerakan kebaikan ini. Donasi dapat disalurkan melalui:
Bank Syariah Indonesia (BSI) No. Rekening: 7167684003 a.n. Uzma Care
Untuk informasi dan konfirmasi donasi, silakan menghubungi: 0852 9 2222 408 – Admin Uzma Care
Kami meyakini bahwa berbagi bukan hanya tentang memberi, tetapi juga menghadirkan harapan dan menjaga martabat kemanusiaan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang meringankan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan meringankan kesulitannya di hari kiamat.” (HR. Muslim)
Mari kita teruskan langkah kebaikan ini bersama Uzma Care. Semoga setiap sedekah yang dititipkan menjadi amal jariyah, membersihkan harta, melapangkan rezeki. Serta menjadi sebab datangnya pertolongan dan keselamatan bagi saudara-saudara kita di Gaza.
Ya Allah, lindungilah mereka yang tertindas, kuatkan hati saudara-saudara kami di Palestina. Cukupkan kebutuhan mereka, dan jadikan kami bagian dari jalan kebaikan-Mu. Aamiin.
uzmacare.or.id — Ada waktu ketika netralitas terasa sebagai sikap paling aman. Ia tampak rasional, tertib, dan menenangkan. Dalam banyak keadaan, netralitas memang dibutuhkan agar jarak pandang tetap terjaga. Namun ada pula saat-saat ketika netralitas berhenti menjadi kebijaksanaan. Ia berubah menjadi jarak yang terlalu jauh dari penderitaan manusia.
Di sanalah kemanusiaan diuji
Dunia hari ini berbicara dengan bahasa yang tenang dan terukur. Stabilitas, kepentingan strategis, keamanan, keseimbangan—semua terdengar masuk akal. Bahasa itu digunakan untuk menjelaskan konflik, krisis, dan tragedi kemanusiaan. Namun di balik kalimat-kalimat yang rapi, ada manusia yang kehilangan rumah, keluarga, dan rasa aman. Ada kehidupan yang runtuh, tanpa selalu terdengar suaranya.
Kemanusiaan tidak lahir dari analisis yang canggih. Ia tumbuh dari empati paling dasar: kemampuan untuk tidak terbiasa dengan penderitaan orang lain. Ketika rasa itu masih hidup, kita akan terusik. Ketika rasa itu melemah, penderitaan mulai terasa biasa.
Dalam kondisi tertentu, berdiri di tengah justru berarti membiarkan. Netralitas menjadi ruang yang nyaman bagi mereka yang tidak ingin terusik, tidak ingin memilih, tidak ingin menanggung beban moral. Padahal, tidak semua situasi memberi kita kemewahan untuk sekadar mengamati. Ada keadaan di mana jarak justru memperpanjang luka.
Atas nama perdamaian, kekerasan kerap dijelaskan sebagai konsekuensi. Penderitaan massal diterima sebagai bagian dari dinamika konflik. Bahasa damai pun kehilangan ketenangannya, karena tidak lagi berpihak pada kehidupan. Perdamaian yang menutup mata pada ketidakadilan adalah ketenangan yang rapuh.
Sejarah manusia berulang kali menunjukkan hal yang sama
Banyak tragedi tidak hanya disebabkan oleh mereka yang melakukan kekerasan, tetapi juga oleh mereka yang memilih diam. Diam karena merasa tidak terlibat, karena merasa netral. Diam karena mengira waktu akan menyelesaikan segalanya. Padahal, waktu tidak selalu menyembuhkan; sering kali ia hanya memperpanjang derita.
Hari ini, jarak itu hampir hilang. Kita melihat penderitaan melalui layar, membaca kesaksian, menyaksikan kehancuran nyaris tanpa jeda. Namun kedekatan informasi tidak selalu melahirkan kedekatan empati. Justru di sinilah tantangannya: menjaga agar nurani tidak tumpul oleh kebiasaan melihat luka. Menyuarakan kemanusiaan tidak berarti memelihara kebencian. Ia bukan teriakan kemarahan. Ia adalah pengakuan sederhana bahwa ada batas yang tidak boleh dilewati. Bahwa martabat manusia tidak boleh ditawar, apa pun alasan dan bahasanya.
Kepentingan yang dibungkus ketenangan
Ketika rasa kemanusiaan memudar, yang tersisa bukan kedamaian, melainkan kepentingan yang dibungkus ketenangan. Kekerasan tidak lagi terasa sebagai kekerasan, melainkan sebagai sesuatu yang bisa dijelaskan. Dan justru di situlah bahayanya: ketika kejahatan berhenti mengguncang nurani.
Kemanusiaan memang tidak menjanjikan akhir yang cepat. Ia tidak menawarkan solusi instan. Namun ia menjaga arah. Ia mengingatkan bahwa di tengah dunia yang sibuk menimbang, masih ada hal yang tidak bisa ditimbang: kehidupan manusia.
Pada akhirnya, pertanyaannya tidak rumit. Ketika penderitaan terjadi di depan mata, apakah kita memilih kenyamanan netralitas, atau kesediaan untuk tetap merasa? Sebab peradaban tidak selalu runtuh oleh kebisingan kekerasan, melainkan oleh sunyinya nurani. Catatan Kemanusiaan By : Edhie Kusmana
uzmacare.or.id — Di tengah keterbatasan yang terus dirasakan, akses terhadap bahan pangan segar menjadi kebutuhan penting bagi warga Gaza. Pada 3 Februari, Uzma Care kembali melaksanakan distribusi bantuan berupa sayuran segar yang berisi bawang, kentang, cabai, tomat, serta berbagai bahan lainnya. Paket-paket ini dibagikan kepada warga yang datang dengan tertib, dan diterima dengan senyuman sebagai tanda harapan di tengah situasi yang sulit.
Program ini merupakan bagian dari ikhtiar berkelanjutan Uzma Care untuk menghadirkan bantuan yang relevan dengan kondisi lapangan. Setelah berbagai penyaluran sebelumnya dilakukan, kali ini fokus diarahkan pada penyediaan bahan pangan harian yang dapat dimanfaatkan langsung oleh keluarga. Kehadiran sayuran segar tersebut diharapkan membantu warga menjaga kebutuhan dapur mereka sekaligus mempertahankan asupan gizi dalam keseharian.
Dari Kepedulian Menjadi Senyum Warga
Seluruh paket sayuran yang dibagikan berasal dari amanah para donatur yang mempercayakan kebaikannya melalui Uzma Care. Proses pengemasan hingga distribusi dilakukan secara tertib dan penuh tanggung jawab agar bantuan sampai kepada mereka yang membutuhkan. Lebih dari sekadar bahan pangan, kegiatan ini menghadirkan penguatan moral bagi warga Gaza bahwa masih banyak pihak yang peduli dan berdiri bersama mereka.
Selanjutnya, keberlanjutan program bantuan pangan ini sangat bergantung pada dukungan masyarakat luas. Oleh karena itu, kami mengajak Anda untuk terus membersamai ikhtiar kemanusiaan ini melalui partisipasi dan doa.
Mari teruskan langkah kebaikan bersama Uzma Care agar semakin banyak keluarga di Gaza merasakan manfaat dari bantuan yang disalurkan. Semoga setiap kepedulian yang dititipkan menjadi amal jariyah, menghadirkan keberkahan, serta menguatkan saudara-saudara kita di Palestina. Aamiin.
Uzma Care For Palestine – Oleh Edhie Kusmana, S.Ag, MM, yayasan Kampung Peradaban Alquran Setiap kali bom menghantam permukiman sipil dan anak-anak menjadi korban, dunia serempak berbicara tentang perdamaian. Pernyataan keprihatinan dibacakan, resolusi dirancang, dan diplomasi bergerak. Namun bagi para korban, semua itu sering datang terlambat. Perdamaian terdengar lantang di ruang rapat internasional, tetapi nyaris tak terdengar di reruntuhan rumah dan rumah sakit yang hancur. Di sinilah konsep Board of Peace (BOP) patut dipertanyakan. Apakah ia benar-benar penjaga perdamaian dunia, atau sekadar mekanisme pengelolaan konflik yang lebih setia pada kepentingan politik global ketimbang pada kemanusiaan?
Board of Peace, penjaga perdamaian dunia?
Secara ideal, BOP dipahami sebagai forum kolektif internasional yang bertugas mencegah kekerasan, melindungi warga sipil, dan menegakkan hukum humaniter. Perdamaian, dalam kerangka ini, seharusnya lahir dari keadilan dan penghormatan terhadap martabat manusia. Namun dalam praktik, terutama dalam konflik Palestina, perdamaian justru lebih sering dinegosiasikan berdasarkan keseimbangan kekuatan, bukan berdasarkan penderitaan korban. Ilusi netralitas menjadi masalah utama. Seruan “menahan diri” kerap disampaikan setelah ratusan nyawa melayang dan ribuan orang mengungsi. Bahasa diplomasi terdengar rapi, tetapi kosong dari keberanian. Struktur perdamaian global memberi ruang dominasi besar kepada negara-negara kuat melalui hak veto dan aliansi strategis. Akibatnya, keputusan tentang perang dan damai lebih ditentukan oleh kepentingan geopolitik daripada oleh hukum dan nurani kemanusiaan.
Di sisi lain, hukum humaniter internasional telah menyediakan landasan yang tegas. Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahannya dengan jelas melindungi warga sipil, tenaga medis, serta fasilitas kemanusiaan. Prinsip pembedaan antara kombatan dan non-kombatan, prinsip proporsionalitas, serta larangan hukuman kolektif bukan sekadar norma moral, melainkan kewajiban hukum. Persoalannya bukan pada ketiadaan aturan, tetapi pada lemahnya penegakan. Banyak pelanggaran hukum humaniter berakhir sebagai laporan dan arsip. Mekanisme penyelidikan ada, tetapi sanksi nyata sering kali berhenti ketika berhadapan dengan aktor yang memiliki perlindungan politik kuat. Inilah yang oleh para pakar hukum internasional disebut sebagai krisis good faith dalam penegakan hukum global. Hukum ada, tetapi keberanian politik untuk menegakkannya kerap menghilang.
Standar ganda yang berbahaya
Oleh karena itu, kondisi ini melahirkan standar ganda yang berbahaya. Kekerasan oleh pihak dominan sering dibingkai sebagai “hak membela diri”, sementara penderitaan warga sipil dianggap sebagai dampak yang tak terhindarkan. Bahasa semacam ini secara perlahan menormalkan kekerasan dan mengikis empati global. Padahal, sejak awal perkembangan hukum internasional, bahkan perang pun dibatasi oleh nilai moral dan kemanusiaan. Dari sudut pandang kemanusiaan, kegagalan BOP bukan sekadar kegagalan prosedural, melainkan krisis moral. Perdamaian direduksi menjadi jeda konflik, bukan proses pemulihan martabat manusia. Warga sipil—terutama perempuan dan anak-anak—menjadi korban berlapis: korban kekerasan fisik sekaligus korban pengabaian sistem internasional yang seharusnya melindungi mereka.
Di titik inilah penting menegaskan kembali makna keadilan.
Keadilan bukan hanya istilah hukum, tetapi kebutuhan paling mendasar bagi manusia yang tertindas. Tanpa keadilan, perdamaian hanya menjadi slogan politik yang mudah diucapkan, tetapi sulit dirasakan. Islam memberikan perspektif moral yang tegas dalam hal ini. Keadilan adalah fondasi utama kehidupan sosial dan politik. Al-Qur’an menegaskan bahwa kebencian terhadap suatu kaum tidak boleh mendorong seseorang berlaku tidak adil. Prinsip ini sejalan dengan maqāṣid al-sharī‘ah yang menempatkan perlindungan jiwa sebagai tujuan utama hukum. Dalam pandangan Islam, kekuasaan tanpa keadilan adalah kezaliman, dan perdamaian tanpa keberpihakan kepada yang lemah adalah kepalsuan. Nilai-nilai tersebut sejatinya sejalan dengan semangat hukum humaniter internasional. Namun dalam praktik BOP kontemporer, nilai itu sering terpinggirkan oleh kalkulasi kepentingan. Perdamaian dijaga agar stabil, bukan agar adil.
Board of Peace seharusnya menjadi suara nurani dunia. Tetapi selama ia lebih patuh pada kepentingan geopolitik dibanding jeritan korban, legitimasi moralnya akan terus terkikis. Dunia tidak kekurangan aturan, tidak pula kekurangan pakar dan resolusi. Yang masih langka adalah keberanian kolektif untuk menegakkan keadilan tanpa pandang kekuatan. Selama keberanian itu belum hadir, perdamaian akan terus diproduksi sebagai narasi, bukan sebagai kenyataan. Dan selama keadilan terus ditunda, kemanusiaan akan selalu menjadi pihak yang membayar harga paling mahal.
uzmacare.or.id — Keterbatasan akses terhadap air bersih menjadi salah satu tantangan paling mendesak yang dihadapi warga Gaza dalam kehidupan sehari-hari. Pada 26 Januari 2026, Uzma Care kembali melaksanakan distribusi bantuan berupa penyaluran air bersih untuk masyarakat setempat. Warga datang secara bergantian dengan membawa dirigen masing-masing, berbaris dengan tertib untuk mendapatkan pasokan air yang sangat dibutuhkan bagi keperluan minum, memasak, dan kebersihan keluarga.
Program ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Uzma Care dalam merespons kebutuhan dasar warga Palestina di tengah situasi yang sulit. Setelah berbagai bentuk bantuan pangan dan perlindungan darurat disalurkan sebelumnya, kali ini fokus diarahkan pada pemenuhan kebutuhan air sebagai elemen utama bagi keberlangsungan hidup. Kehadiran distribusi air bersih ini diharapkan dapat meringankan beban harian keluarga-keluarga yang terdampak.
Dari Kepedulian Menjadi Sumber Kehidupan
Setiap liter air yang dibagikan berasal dari amanah para donatur yang mempercayakan kepeduliannya melalui Uzma Care. Proses penyaluran dilakukan dengan penuh tanggung jawab agar bantuan dapat menjangkau warga secara adil dan tepat sasaran. Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan dasar, kegiatan ini membawa pesan solidaritas bahwa masyarakat Gaza tidak sendiri dalam menghadapi kesulitan.
Selanjutnya, keberlanjutan program air bersih ini sangat bergantung pada dukungan masyarakat luas. Karena itu, kami mengajak Anda untuk terus membersamai ikhtiar kemanusiaan ini melalui partisipasi dan doa.
Mari lanjutkan langkah kebaikan bersama Uzma Care agar semakin banyak keluarga di Gaza memperoleh akses terhadap air bersih yang layak. Semoga setiap kepedulian yang dititipkan menjadi amal jariyah, menghadirkan keberkahan, serta menguatkan saudara-saudara kita di Palestina. Ke depan, Uzma Care akan terus menjaga komitmen untuk menyalurkan bantuan pangan yang dibutuhkan warga Gaza secara konsisten dan terukur. Setiap kegiatan distribusi dirancang agar tetap mengedepankan prinsip kemanusiaan, kehati-hatian, serta tanggung jawab kepada para donatur. Dengan dukungan yang berkelanjutan, bantuan dalam bentuk sayuran segar ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak keluarga dan membantu mereka mempertahankan kehidupan sehari-hari.
Kami mengajak seluruh masyarakat untuk terus menyertai ikhtiar ini melalui kepedulian dan doa. Semoga setiap kebaikan yang dititipkan menjadi jalan hadirnya keberkahan, perlindungan, serta kekuatan bagi saudara-saudara kita di Gaza. Dengan kebersamaan, kita percaya harapan akan terus tumbuh meski di tengah keterbatasan. Aamiin.