Antara Harapan dan Khayalan: Menunggu Janji Manis BOP untuk Saudaraku Gaza

Antara Harapan dan Khayalan: Menunggu Janji Manis BOP untuk Saudaraku Gaza

uzmacare.or.id — Setiap kali kata BOP diucapkan, harapan itu kembali menyala. Di masjid-masjid, ruang diskusi NGO, mimbar ulama, forum akademisi, hingga percakapan sederhana di warung kopi—nama itu disebut dengan nada yang sama: berharap. Seolah BOP adalah pintu terakhir yang akan terbuka bagi Gaza, yang selama berbulan-bulan hidup dalam kepungan, kelaparan, dan ketidakpastian.

Indonesia, dengan seluruh energi moral dan spiritualnya, telah menaruh harapan besar. Ulama berdoa, aktivis bergerak, pakar menulis analisis, dan masyarakat menggalang donasi. Semua seakan sepakat: bila BOP berjalan, maka bantuan akan mengalir, penderitaan akan berkurang, dan secercah hidup akan kembali ke reruntuhan Gaza.

Antara Harapan dan Khayalan: Menunggu Janji Manis BOP untuk Saudaraku Gaza

Namun di titik inilah pertanyaan besar itu muncul—antara harapan dan khayalan.

Sebab harapan, betapapun sucinya, akan berubah menjadi ilusi bila tidak berpijak pada kenyataan. Gaza hari ini tidak kekurangan janji, tetapi kekurangan roti. Tidak kekurangan pernyataan solidaritas, tetapi kekurangan air bersih. Tidak kekurangan doa, tetapi kekurangan jaminan bahwa bantuan benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan.

BOP, sebagaimana digambarkan dalam berbagai forum, tampak seperti solusi teknokratis yang rapi: mekanisme bantuan yang aman, terkoordinasi, dan berkelanjutan. Di atas kertas, ia terlihat menjanjikan. Tetapi Gaza bukan kertas. Gaza adalah tanah yang dibombardir, perbatasan yang dikunci, dan manusia yang hidup di bawah kuasa senjata. Di sana, tidak ada mekanisme yang netral. Tidak ada distribusi yang benar-benar bebas dari kendali politik dan militer.

Tidak ada mekanisme yang netral

Di sinilah kegelisahan itu tumbuh. Apakah BOP sungguh instrumen kemanusiaan, atau sekadar bingkai baru untuk menunda keadilan? Apakah ia jembatan bantuan, atau justru pagar baru yang mengatur siapa boleh hidup lebih dulu dan siapa harus menunggu lebih lama?

Kegigihan Indonesia patut dihormati. Tidak banyak negara yang berani berdiri konsisten di sisi Palestina, bukan hanya secara diplomatik, tetapi juga secara moral. Ulama mengingatkan bahwa Gaza bukan sekadar isu politik, melainkan amanah akidah. NGO bekerja dalam sunyi, menembus birokrasi dan risiko. Para pakar mengajukan skema, data, dan argumentasi agar dunia tidak lagi berpaling.

Namun justru karena kegigihan itu, publik berhak bertanya dengan jujur: ke mana arah harapan ini dibawa?

Sejarah Gaza mengajarkan satu hal pahit: banyak koridor kemanusiaan yang lahir bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menenangkan opini global. Bantuan diizinkan masuk secukupnya—bukan untuk mengakhiri penderitaan, tetapi untuk memastikan penderitaan itu tidak terlalu terlihat. Dalam situasi seperti ini, harapan mudah disulap menjadi alat penundaan.

Anak-anak Gaza tidak hidup dalam konsep. Mereka hidup dalam hitungan jam tanpa makanan. Para ibu tidak menunggu desain kebijakan; mereka menunggu apakah hari ini ada tepung. Para ayah tidak membaca siaran pers; mereka bertanya apakah besok masih ada tempat berlindung.

Maka ketika BOP terus dibicarakan, sementara realitas di lapangan nyaris tak bergerak, kegelisahan itu menjadi sah. Jangan-jangan yang kita tunggu bukan pintu yang akan dibuka, melainkan tirai yang menutup kegagalan kolektif dunia.

Harapan sejati selalu menuntut keberanian

Bukan hanya keberanian untuk berharap, tetapi keberanian untuk berkata cukup ketika harapan diperalat. Jika BOP tidak disertai tekanan politik nyata, jaminan akses tanpa syarat, dan keberpihakan tegas pada korban—maka ia berisiko menjadi khayalan yang dibungkus bahasa kemanusiaan.

Saudaraku di Gaza tidak membutuhkan simbol baru. Mereka membutuhkan perubahan nyata. Dan bagi kita di Indonesia, solidaritas tidak boleh berhenti pada keyakinan bahwa “sesuatu sedang diusahakan.” Solidaritas menuntut kewaspadaan moral: memastikan bahwa setiap janji benar-benar bergerak menuju kehidupan, bukan sekadar menunda kematian.

Di titik ini, pertanyaan itu harus dijaga tetap hidup: Apakah kita sedang merawat harapan, atau sedang diajak menikmati khayalan?

Sebab bagi Gaza, perbedaan keduanya bukan soal wacana—melainkan soal hidup dan mati.

Catatan Kemanusiaan :
Edhie Kusmana
UZMA CARE FOR PALESTINE YKPA

Kunjungi berita ter-update di Instagram kami
Baca juga : https://uzmacare.or.id/epstein-dan-kejahatan-global-dibalik-tabir-modernitas/